Janji Tertunda : Huru Hara

Yap, ini adalah edisi pemenuhan janji yang sudah tertunda setahun lamanya. #sorrynotsorry

Kalau kalian belum membaca kisah perjalananku sebelumnya, sebaiknya baca dulu di :

  1. Aku Kembali!
  2. T U R N E Y D I M U L A I ! !
  3. B-E-G-O-R-I
  4. Tahai : Tragedi Hari Ketiga

Sudah selesai baca? Oke, kalian bisa lanjut baca post kali ini.

Aku nggak tau kenapa aku dulu nggak segera menuliskan ini bersamaan dengan artikel-artikel turney yang lainnya. Alasan kenapa malam ini tengah malam ini aku menuliskannya adalah karena aku diminta sama Bro Diaz untuk menuliskan kisahku dalam bentuk artikel untuk dimuat dalam majalah Fides. Trus aku berujung pada lihat-lihat foto, dan baca ulang kisah yang aku tulis sendiri. (aneh gak sih?)

Well, aku sekarang [Kamis, 12/05/2016/1:00] sedang mengetik artikel ini. (ini beneran kebetulan pas lihat, pukul 1:00, nggak di pas-pasin kok) #beneran. Oke. Aku akan menuliskan kisahku, hari ke-4 dalam perjalanan turney bersama Romo Kur, Bu Nita, Winda dan Ryo — dengan ingatan setahun lamanya ini. Lumayan susah dilupakan, karna ini adalah salah satu hari paling berkesan dalam hidupku. #IMeanIt

*erm, aku lupa ini seharusnya tanggal berapa kejadiannya* *lihat post sebelumnyaa* 😀

Minggu, 5 April 2015

Hari Paskah!! Aku ingat, kami semua tidur di ruang tamu bersama sama (Romo Kur, Ryo, Bu Nita, Winda dan Aku). Malamnya, kami (aku, Winda, Bu Nita dan Ryo) dibiarkan tidur terlebih dahulu oleh Romo Kur, karena saking lelahnya Romo sering mendengkur dalam tidur. Hehe. Sebenernya gak masalah juga sih, karena kita juga lelah dan sudah sangat siap untuk memejamkan mata, dengan atau tanpa gangguan apapun. Haha.

Bangun pagi, kami segera diminta untuk bersiap-siap. Mandi. Packing. Makan. Untuk melanjutkan perjalanan ke Stasi berikutnya : Hara. Stasi ini merupakan stasi paling ujung dari anak sungai Melawi ini, Sungai Demung. Dan pagi ini Romo mengatakan bahwa tidak ada mandi kamar mandi. Sungai. XD Setelah mendapat pinjaman jarit/sarung untuk mandi. Aku dan Winda pun segera turun ke sungai ditemani Bu Nita. Untuk kali ini aku tidak takut, karena sungainya sangat dangkal (jika dibandingkan dengan Sungai Melawi). SUNGGUH JERNIH. BAGUS BANGET. Kalian bakalan bisa ngelihat batuan di dasar sungainya, air mengalir sungguh segar! Aku betah. Banget. Mandi berlama-lama juga nggak masalah. Aku duduk di atats sebuah batu yang besar di tengah sungai untuk mendapatkan arus yang lebih deras dan bagian lebih dalam untuk menbilas sabun. Sayangnya, kami tidak boleh terlalu lama mandi, tidak bisa menikmati mandi di Sungai Demung begitu lama :(. Kami harus bergegas menuju stasi selanjutnya. Kami pun (Aku dan Winda) naik ke atas dan berganti pakaian. Kami pun segera makan dan melanjutkan perjalanan!

Kami diantar oleh penduduk Stasi Tahai, yang kami awalnya mengira bahwa di jemput oleh Stasi Hara. Karena begitu biasanya. Aku tidak begitu ingat berapa lama perjalanan menuju Stasi Hara, tidak sebentar tapi juga tidak begitu lama. Sesampai disana kami langsung berjalan menuju salah satu rumah penduduk. Bisa aku bilang, menurut ingatanku, di Stasi ini tidak begitu padat penduduknya. Kami juga membawa bingkisan serta peralatan kartu paskah yang sudah kami bagikan di Stasi Tahai. Setelah singgah di salah satu rumah penduduk, kami pun melajutkan perjalanan menuju sekolah SD di sana untuk misa. Gereja yang di bangun di stasi ini belum jadi. Menurut cerita Romo sih, tidak ada progress lagi sejak terakhkir kali Romo Kur berkunjung ke stasi ini. Jadi kami melaksanakan perayaan ekaristi paskah ini di dalam gedung sekolah sederhana bersama seluruh warga Statsi Hara.

Processed with VSCO

Suasana sebelum misa berlangsung. (maaf kuallitas foto rendah. Hasil foto pake HP)

Processed with VSCOcam

Kami tidak bermain dan mengajar sekolah minggu lagi di sini, kami hanya membagikan bingkisan dan kartu paskah yang kami bawa karena waktunya tidak cukup. Kami masih harus mendatangi sebuah stasi lagi, yap Stasi Lomai yang sempat kami singgahi saat perjalanan menuju Tahai. Seperti biasa, Romo diundang untuk makan bersama di salah satu rumah penduduk, dan yah kami makan lagi setelah belum sampai beberapa jam kami makan sebelum berangkat kemari.

Bagian makan *lagi* itu sudah nggak menjadi masalah karena aku telah melaluinya selama beberapa hari belakangan ini. XD Yang jadi masalah buat aku itu tuak. Tuak ini merupakan minuman khas, yang juga merupakan jenis minuman keras (mengandung alkohol). Sebenarnya rasanya sih seperti es legen, dengan lebih mengengat dan persentase alkohol lebih tinggi. Bisa dibuat dari tape atau nasi yang difermentasi. Ya semacam itulah. Pokoknya semakin lama proses fermentasinya, semakin bikin mabuk. XD Aku nggak suka, yah kalo incip-incip aja pernahlah. Tapi kalau suruh minum satu gelas. Wah gak. Makasih. Di rumah ini, aku duduk bersebelahan dengan Bu Nita, di seberang Romo, Ryo dan Winda. Setelah makan, salah satu ibu sang pemilik rumah, menyuguhkan kami (Aku dan Bu Nita) tuak dalam segelas PENUH. Oke, kita minum berdua deh. Kita minum cepat-cepat dan lupa dengan saran : tutup gelas dengan tangan agar tidak di isi lagi. Terlambat. Gelas kami sudah terisi penuh kembali. Bahkan, aku, gelasku yang berisi air, di buang oleh ibunya dan diisi dengan tuak. PENUH. *mati aku*

Nantikan kelanjutan kisahnya!

T e r i m a  k a s i h !

| Follow | Like | Comment | Share |

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s