Apa yang telah berubah dari Ibu Pertiwi-ku?

Ermm, jika ditanya apa saja perubahan yang terjadi di Indonesia selama 10 tahun belakangan ini maka akan muncul berbagai tanggapan yang nggak jauh dari kata ‘Globalisasi’. Bagaimana Ibu Pertiwi ini menanggapi berbagai arus perubahan zaman yang kian gencar, dan secara perlahan mengikis kebudayaan dan gaya hidup bangsa. Layaknya sebuah pepatah, ‘tiada gading yang tak retak’ — seperti itulah bagaimana bangsa kita yang mulai ‘retak‘ termakan waktu. Namun kearah manakah ke-retakan bangsa Indonesia ini?

Salah satu perubahan yang paling dapat aku dirasakan ialah gaya hidup. Mengapa gaya hidup? Berubahnya atau berpengaruhnya ‘globalisasi’ pada suatu aspek kehidupan akan mempengaruhi gaya hidup yang dilakoni masyarakatnya pula. 10 tahun lalu adalah bermula ketika aku masih berumur 8 tahun dan duduk di bangku kelas 3 SD. Ketika aku masih lugu dan yah,,polos. XD  Jika aku mencoba bertanya dan mengingat hal-hal apa saja yang telah berubah, maka akan begitu banyak hal yang telah aku rasakan. Meskipun otak sudah agak macet untuk mengingat masa-masa ‘bocah’ hingga ‘menua’ ini, mari kita throwback aja deh apa sih yang sudah berubah dari Indonesiaku 10 tahun belakangan ini?

  1. Komunikasi. Ketika aku masih duduk di bangku SD hingga awal SMP, belum ada tuh grup kelas di Social Media, belum ada HP dengan resolusi kamera bagus untuk foto catatan bejibun di papan tulis. Belum ada aplikasi chat untuk ngobrol bareng sahabat-sahabat untuk ngrencanain hangout bareng,curcol sampe ngomongin orang lain. *ups* Jika diingat lagi, aku sekarang akan tertawa. Begitu mudahnya berkomunikasi dan membagikan info-info, betapa mudahnya untuk curcol dengan biaya murah dan nggak usah pake telpon rumah. Lucu gak sih? Dulu fine-fine aja kok gak ada gadget yang menemani sarapan pagi hingga gosok gigi malam sebelum tidur, dan gak harus lihat update-an terbaru di socmed.
    ilustrasi gambar : google.com

    ilustrasi gambar : google.com

    Lalu bagaimana itu sekarang terasa berat ketika aku–kita, jauh dari alat komunikasi — gadget kita. 10 tahun berlalu dan sekarang aku sendiri masih bergantung dengan gadget-ku mengenai semua tugas sekolah, mengenai kelengkapan dan kriteria tugas yang tersampaikan di grup LINE kelas. Sungguh ironi ketika komunikasi yang langsung di Sekolah tergantikan dengan kecanggihan teknologi, bukan? Bagaimana aku sekarang dengan semua kemudahan yang ada malah melupakan komunikasi yang sesungguhnya. Kalau nggak jelas ya tanya di sekolah kan, bukan di grup chat. Haha. Sungguh terasa memang besarnya pengaruh gadget dalam hubungan kita dengan orang lain. Aku, pribadi juga merasa memang ini terasa mudah–sekaligus terasa jauh. Dulu akan menyenangkan ketika aku mengobrol dan tertawa bersama teman, namun sekarang semua itu tergantikan dengan senyuman pada layar HP.

  2. Makan dirumah. Memang aku tidak secara signifikan merasakan hal ini, namun era global yang kian gencar turut merubah pola
    Makan bersama di Rumah

    ilustrasi gambar : google.com

    makan kita. Secara sadar atau tidak kebiasaan makan dirumah semakin luntur, banyaknya makanan cepat saji menjadi salah satu faktornya. Aku sendiri tidak memungkiri bahwa makanan cepat saji — selain tentu saja cepat, juga rasanya enak. Menjamurnya berbagai restoran cepat saji di Indonesia tidak dapat dibantahkan. 10 tahun lalu, yang aku tau dan aku ingat ya MCD,KFC. Sekarang? Bisa dibuat daftar deh resto-resto baru yang muncul 10 tahun belakangan ini. Belum lagi cafe-cafe dengan tema unik dan tempat yang nyaman buat ngobrol dan hangout bareng temen. Lengkap sudah. Dulu mah apa? Pulang sekolah nonton tv dirumah, kerjain pr di rumah temen kadang, pulang ke rumah lagi makan. Udah gak keluyuran kemana-mana. Kalo sekarang sih jamannya nongkrong di cafe/resto baru biar tetep eksis.

    Ilustrasi gambar : google.com

    Ilustrasi gambar : google.com

    Hmm, padahal makanan yang kita konsumsi di luar rumah mengandung lebih banyak kalori — apalagi resto cepat saji. Gaya hidup bangsa yang kian ‘nggak mau repot’ juga menjadi faktor utama tergusurnya kebiasaan makan di rumah. Padahal makanan rumah tiada duanya kan, guys? 😫 Bukan berarti nggak boleh makan diluar rumah sih, namun sebaiknya jangan dijadikan kebiasaan karena juga mempengaruhi kesehatan.

  3. Online shop. Mudahnya komunikasi dan teknologi membawa perubahan pula pada kebiasaan belanja. Memang, mall dan toko-toko tetap menjadi sasaran untuk ajang shooping. Tapi nggak kayak dulu, aku cari baju yah di mall, ya di pasar atum (pusat perbelanjaan besar di Surabaya #BelumKeSurabayaKalauBelumKePasarAtum)  lol 😂. Yah intinya begitulah. Jaman aku SD sih harus jalan dulu buat bisa shooping, sekarang? Duduk di rumah ajah uda bisa dapet belanjaan dan habisin uang. Maraknya toko online mulai benar-benar terasa ketika aku mulai memasuki bangku SMA. “Eh, lucu banget tasmu. Beli dimana?” “Di olshop,murah loh. Cek aja instagramnya.”
    Ilustrasi Gambar : google.com

    Ilustrasi Gambar : google.com

    instagram

    Ilsutrasi Gambar : google.com

    Kalimat-kalimat seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Tokopedia.com, blibli.com, zalora.com, tentunya kita semua sudah tidak asing kan dengan website – website tersebut? Kemudahan komunikasi rupanya merambah ke lapak ‘ekonomis’ — nggak usah punya toko, sudah bisa berjualan. Jujur, aku sendiri sih belum yang ‘termakan’ dengan olshop-olshop itu, selain kadang nggak puas dengan barang kiriman, juga ortu-mama terutama yang nggak percaya dengan foto ajah. Tapi kembali, di era serba cepat yang memasuki tanah Ibu Pertiwi ini, hal-hal seperti inilah yang memang datang dan mulai merubah bangsa kita, Indonesia. Dari buku Sosio, yang aku pelajari di sekolah aja sudah menyatakan bahwa Perubahan Sosial yang terjadi ini juga atas berkembangnya individu-individu sebagai manudia modern–yang menuntut kemudahan dan keefektifan. #anakIPS 😅

  4. Internet.
    Ilustrasi gambar : google.com

    Ilustrasi gambar : google.com

    Terakhir dan yang terutama. Zaman aku SD, masih nggak ada temen-temen yang pegang HP dengan jaringan internet 3G bahkan 4G. Yang aku inget, nggak sengaja buka browser di HP ajah : ‘Gila, pulsa langsung habis!’ 😲 Sekarang? Dirumah ada wifi, di sekolah juga ada,  di cafe tempat nongkrong, di resto sampai di warung kopi pinggir jalan pun menyediakan fasilitas wifi.

    Iustrasi gambar : google.com

    Iustrasi gambar : google.com

    Sebegitu tertariknya kah manusia-manusia Indonesia ini dengan internet? Ya. Memang, aku sendiri tidak dapat memungkiri bahwa internet menjadi bagian dalam kehidupan zaman sekarang. Kemudahan untuk mendapatkan internet menjadi sebuah hal kecil — sekaligus besar yang terjadi selama 10 tahun terakhir ini. Hal ini pula yang ikut ambil bagian dalam tergusurnya kebiasaan-kebiasaan lama. Cara hidup lama dianggap ‘lelet’ dan tidak efektif secara perlahan mulai ditinggalkan. Orang zaman sekarang dapat hidup dengan baik apabila jaringan internet berjalan cepat, bukan karena baiknya hubungan dengan lingkungan. Kehidupan di media sosial juga menggusur kehidupan nyata yang dijalani. Banyak momen terbuang hanya karena hal yang terdapat di internet dianggap lebih menarik. Sedih memang ketika aku sendiri sadar bahwa telah diperbudak dengan internet, dengan semua media sosial. Indonesia berubah menjadi negara yang egois, bukan ramah dan ringan tangan karena hanya sebuah layar HP berukuran 4 inch. Masyarakat Indonesia melupakan kelemah-lembutan dan kebaikan dalam setiap laku dan perbuatan hanya karena sebuah komentar buruk di akun media sosial. Berbagai berita buruk dan penuh kebohongan dengan mudahnya beredar di internet. Apakah kita ingin terus dijajah? Tidakkah kita sadar bahwa nilai-nilai budaya bangsa kian memudar?

Semua hal diatas memiliki dampak positif dan negatif. Semua hal memilikinya bukan? Hanya saja bagaimana kedepan, Ibu Pertiwi ini akan mampu menjalani desakan era Global yang kian mengikis diri? Tidakkah kita merasa bahwa sisi positif yang kita rasakan ternyata menjerumuskan kita? Ada baiknya kita menjadi penggagas-penggagas perubahan bangsa ke arah yang positif. Bagaimana aku dapat dengan baik memanfaatkan kemudahan komunikasi tanpa menghilangkan komunikasi yang nyata. Bagaimana aku dapat membatasi diri dengan kenikmatan-kenikmatan diluar agar tidak menggusur budaya yang sudah ada. Bagaimana aku dapat bersikap positif dengan kemudahan berbisnis. Bagaimana aku mampu menyikapi internet dengan lebih bijak, dengan membatasi diri dengan kehidupan maya dan dapat dengan nyata menjalani kehidupan yang nyata. Dan yang terakhir, maukah kita mencegah hal-hal yang salah dan mengembalikan bangsa kita kepada Indonesia yang dulu. Indonesia yang benar-benar merdeka.

<

Advertisements

4 comments

  1. wow.. ga kerasa emang cepat sekali perubahannya.. 🙂 mungkin satu lagi maraknya / mejamurnya minimarket hehe.. 🙂

    Pada intinya segala perubahan yang baik adalah dimana kita-masing-masing pribadi mampu menguasai perubahan tersebut *baca=merdeka. Jika dengan perubahan tersebut membuat kita dikuasai olehnya(No.1-4;mungkin masih banyak lagi) maka kita belum merdeka.. 🙂

    MERDEKA… 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s