Edisi Pemenuhan Janji #2 #Diklatpertama

Diklat pertama itu..
Maret tahun lalu. Aku lupa tepatnya kapan sih. Tapi aku inget kalo bulan Maret. Mari kita throwback ke Diklat Pertamaku!
Waktu dulu pertama kali Diklat, aku belum resmi jadi anak Pecinta Alam. Karena waktu itu aku masih berstatus login ekstra Mading dan Mitreka. Aku mungkin sekali ata dua kali ikut pertemuan ekstranya. Jadi, waktu aku menginjakkan kaki ku Camping Ground GSV (Griya Samadhi Vincentian) aku kayak–aku lumayan gatau apa-apa sih. Peralatan yang aku bawa ya seadanya. Semua yang wajib ya aku bawa, soalnya disini kita beelajar untuk hidup sendiri, kan susah juga kalo aku gak bawa trus aku gak bisa pinjem.__.

Diklat pertamaku itu bareng : Christine Sutanto ( sahabatku sejak TK), Christine Santosa ( teman SD), Kenny Prayogo ( BFnya si Christine Sutanto:D), Aloysius Fung ( Aku taunya di anak UKS waktu itu), dan Febryan Lilianto Lie ( waktu itu aku masih gak kenal–sekarang dia temen sekelasku).
Kita berangkat sekitar pukul 8 kurasa. Kita naik truk TNI yang bolong belakangnya itu. Berasa luas soalnya cuma ber-6 aja. hhihi. Kita gak langsung turun di GSV nya. Kita harus lintas basah dulu untuk biar bisa sampe ke GSV. Lumayan jauh, sekitar dua jam perjalanan kaki menempuh persawahan, sungai, naikan, turunan,dan tembok. Tapi kita sukses melalui itu semua. Dipandu sama bapak guidenya, beberapa dari kita–termasuk aku udah basah belum sampe separo perjalanan. Bapaknya gak basah, padahal jalannya cuma bermodalkan sandal jepit. Kalo dibandingin sama kita yag pake sepatu kets atau sandal gunung. Kita kalah telak. Seru sih, berasa kayak ‘melangkah benar atau jatuh tergelincir dan basah’ jadi di sini kita belajar teknik-teknik balancing yang selalu ditekanin sama Bro Diaz. Dannn, setelah perjalanan panjang yang cukup melelahkan sekaligus seru. Kita sampai di GSV!

Begitu sampai, kita semua–berenam kelaparan, kepanasan, kelelahan, dan kebasahan. Barang bawaan kita jujur emang banyak, tapi itu karna kita sendiri yang terlalu berlebihan bawanya. Yah, intinya kurang minimalis gitu kalo mau hidup di alam. Waktu sampai aku inget banget kita di kasih pisang–soalnya waktu itu Christine kan gak suka pisang, tapi karna dia uda dalam kondisi lapar akut, dia makan juga. haha. Dua biji bahkan kalo gak salah.
Habis gitu kita upacara pembukaan dipimpin sama Bro Diaz dan ada Bro Ndog juga. Disitu ditegaskan kalo kita itu harus bener-bener tangguh menghadapi pelatihan ini. KIta semua disini bukan seneng-seneng ataupun sekedar jalan-jalan aja. Kita disini belajar, bukan main-main. Emang pelajaran yang kita dapet bukan bikin nilai rapot kita bagus, tapi yang kita pelajari disini adalah hal-hal yang gak bakal kita dapet di kelas waktu pelajaran. Kita belajar lebih untuk kedepannya nanti. Mungkin efek dari Diklat ini bukan besok atau lusa, tapi nanti ketika kita uda mulai masuk di kehidupan masyarakat yang sesungguhnya. Jujur, di awal aku agak takut sekaligus excited.
 
Hari pertama Diklat, kita diminta untuk bener-bener merasakan survival sendiran di Hutan. Kita gak boleh ngomong satu sama lain kecuali kalo kita lagi bareng-bareng di Base Camp Pembina.  Tempat kita di pisah-pisah. Hari pertama kita isi dengan materi praktek pembuatan bivak dan materi-materi lainnya. Matahari tenggelam dan kita dibekali sekaleng sarden serta sebungkus mi jumbo untuk kita masak dengan kompor buatan sendiri. Dengan menggali tanah–mengeluarkan isi sarden dari kalengnya–memasukkan kaleng ke dalam lubang yang dibuat–diisi dengan spirtus–lalu di beri tisu serta batu di sekelilingnya untuk tempat meletakkan nesing(tempat masak), dan mulailah aku masak. Aku pernah lihat cara ini waktu Desember 2013 lalu aku ikut Diklatnya anak-anak Garda, jadi aku setidaknya tau aku harus bkin kayak apa. Bedanya karna waktu itu aku cuma ngeliput, jadi aku nggak ikut bikinnya. hehe. Aku masak, dan mateng juga akhirnya. Aku denger suara-suara dari Christine dua-duanya yang masih masak. Tapi aku segera membersihkan alat-alat masakku karna uda di peringatin kalo jangan ninggalin sampah begitu aja–kecuali aku mau tidur ditemani semut
 
Aku tidur di bivak yang aku buat. Bermodalkan tali pramuka dan ponco jadilah sudah tempat tidurku ini. (sebenernya aku mau kasih tunjuk fotonya, tapi file-fileku habis hilang yang di laptop :(:( jadi yah sudah ). Jadi bivak itu bentuknya semacam tenda darurat, tapi minimalis banget. Cuma cukup buat tidur aja. dan di satu sisinya bolong. Untung waktu siang harinya sama Bro disuruh cari daun pisang dan nutupin separuh bagian yang bolong itu biar aku gak kedinginan. Banyak semut sih, aku tidur dengan lumayan paranoid kebanyang semut-semut bejibun itu. Jadinya aku tidur dengan gak nyenyak. Ditambah dengan kegelapan pekat yang ditawarkan hutan GSV ini plus suara-suara yang masih berasa asing ditelingaku. Bangun-tidur-bangun-tidur.. dan begitu terus sampe pagi aku bangun dan uda jam 5. Aku boleh bawa hape dengan resiko ditanggung sendiri. Jadi aku pasang alarm biar aku bisa bangun dan gak kena porsi– 1 porsi = 10 kali push-up, sit-up, dan back-up. Karena tiap ada panggilan untuk kumpul di Base Camp  kita semua harus sampe sebelum hitungan kesepuluh berakhir. Terlambat satu detik = 1 porsi tadi. Belajar banget buat ngehargain waktu dan gak lelet. Seingetku aku bangun dan langsung lari denger suara peluit yang ditiup. Habis gitu kita semua ketemu, aku lupa tepatnya ngapain tapi pasti kita cerita satu sama lain. 😀

 
Hari kedua, kita semua dapat materi lalu dilanjutkan dengan misi bersama. Pertama kita diminta untuk mengeliling seluruh GSV di jalan setapak yang ada. Lumayan jauh, kita dibatasi waktu dan bukan cuma keliling aja, kita diminta untuk menggambar peta dari jalan yang uda kita lewatin pake kompas. Kita berhasil. Kalau nggak salah waktu itu kita mepet waktu balik lagi ke tempat kita mulai, atau uda telat yah.__. Tapi seru sih. hehe. Setelah itu kita dapet misi lagi buat ‘mencari korban’ dari titik koordinat yang diberitauin ke kita. Berasa kayak tim-tim penyelamat gitu. XD Diuji ketahanan kita, hujan turun cukup deres saat pencarian kita. Menambah tingkat kesulitan medan, bahkan di awal-awal kita sudah ragu soal arah yang kita tentuin. Kita semua basah kuyup, ada yang pake jas hujan sih. Tapi aku engga, aku cuma pake jaket yang akhirnya juga basah kuyup. Pencarian kita berujung manis. Kita berhasil menemukan ‘korban’ yang dimaksud. Menjelang akhir pencarian, hujan sudah reda dan waktu kita menemukannya, langit sudah terang. Dengan wajah bak bangun tidur dan uda gak mandi seharian plus diguyur air segar. Kita bereng-bareng menyelamatkan ‘korban’ dan menggotong bersama pake tandu. Lumayan berat dan dengan medan yang berkontur. Lalu sampailah kita di sisi lapangan basket. Kita diibaratkan akan menyebrangkan si korban ini, jadilah kita (ya gak vuman kita, tapi bareng-bareng Bro) bikin semacam sistem katrol dari ujung yang satu ke ujung pohon diseberang. Kita naikkan tandu ke atas tali dan menjalankannya. Tidak benar-benar mulus, karena tali terus mengendur sehingga baru sampai ditengah tali, tandunya sudah nyentuh  tanah. Namun kita semua akhirnya mencoba pake hernes untuk turun. hehe. Yah kurang lebih rasanya kayak Flying Fox singkat gitu. Setelah beres-beres apa yang kita pasang tadi, kita segera diminta untuk kembali ke tempat kita masing-masing dan berbenah segala barang kita.
 

Kita ber-6 sepakat di jalan kalo kita bakal jalan bareng-bareng dari tempatnya yang paling jauh–Febryan soalnya bener-bener gelap waktu itu. Jadi muncullah kebersamaan kita. Tapi, uda sekitar 1/2 perjalanan kita, PELUIT BERBUNYI SAUDARA-SAUDARA. Sontak, kita semua lari tunggang langgang ke arah datangnya peluit. Capek, plus kaget banget. Tapi aku, kita semua gak mau kena porsi dalam keadaan seperti ini. Kita di briefing soal apa yang harus kita lakuin setelahnya. Waktu yang diberikan nggak mungkin cukup buat kita bareng-bareng beresin barang. Jadi kita langsung berpencar ke tempat kita masing-masing. Aku segera memasukkan segala barangku ke dalam tas, melepaskan tali-tali bivakku ,melipat ponco, dan menggulung matras. Meski nggak rapi, tapi sudah beres. Ada beberapa yang aku tenteng–atas efek ketidak-rapian yang aku buat. Aku pun langsung meletakkan barangku di daerah Base Camp dan balik lagi untuk melihat keadaan Christine duanya-duanya. Aku bawa barang-barang yang sekiranya aku bisa bawain. Dan sampilah kita semua di Base Camp.

Kita diminta untuk bikin-entah apa-pokonya tempat tidur untuk kita ber-6. Tapi kita sempat putus asa, kelelahan dan diam. Bahkan sempet kita duduk,tidur-tiduran sampe Bro dateng karna kita mencoba membuat namun tidak berujung manis, dan datanglah Bro Ndog dan Bro Diaz dan membantu kita bikin. Waktu nunggu Bro aku sempet kaget liat ada ular jalan merayap melata kurang dari 1 meter dari tempatku duduk. Aku langsung bangunin si Kenny, Alo dan Febryan buat menangani si ular itu. Meski gak besar, but setill, kit semua gak tahu itu berbisa atau gak. Sempat agak lucu, Kita memutuskan untuk bakar si ular, kita siram pake spirtus tapi gagal. Yang ada ularnya naik-naikin kepalanya bak ular Cobra. Lalu  cowok-cowk itu mulai males dan  lelah, jadi kita cuekin si ular. Aku duduk nunggu Bro dateng buat lapor–kerjaanku selama nunggu = menyorot si ular kemana pun ia jalan bak lampu sorot panggung dan dia artisnya. Akhirnya sama Bro Diaz ularnya dibuang nan jauh ke daerah lain. *yeay*
 

Malam itu, aku, Chris (Christine Sutanto), dan Tintin (Christine Santosa) dibolehin tidur di dalam tenda, sedangkan yag cowo-cowo tidur di luar. Entah mengapa, padalah seharunya dalam kegiatan survival kayak gini gak boleh tidur di dalam tenda. Tapi tentu saja kita bersyukur banget. Banget. Aku masih kedinginan, meski uda di dalam tenda. Tapi masih berasa lebih hangat dibanding malam aku tidur sendirian kemarin malamnya.
Hari ketiga, Kita semua berbenah untuk siap pulang. Tapi kita berangkat dulu ke Air Terjun Alap-Alap sebelum kepulangan kita. Kita lintas basah di sana. Jadi kita berjalan menuju ke air terjunnya tapi dengan melalui sugainya jadi melawan arus gitu. Kuakui in seru banget tapi seklaigus beresiko. Arusnya lumayan deras, dan banyak batu-btu licin yang dengan sekali pijak–bakal sukses bikin badan basah kuyup. Aku lupa berapa lama waktu tempuh kita untuk sampai di air terjunnya tapi cukup lama. Begitu sampai, Aku bukannya seneng lagi, TAPI SENENG BANGET. Airnya jernih dan seger banget diperkuat dengan fakta bahwa aku udah gak mandi 3 hari lamanya. Gak cuma aku, kita semua. Jadi merasakan air yang jatuh membasahi badan itu INDAH BANGET. Kita juga belajar balancing di sini. Aku sempet takut, soalnya denngan air yang begitu deras jatuhnya aku jalan dari ujung yang kanan ke yang kiri. Sempet mulai tapi balik lagi, tapi akhirnya bisa juga. Udah gitu kalo kita sampe di ujung dan buka mata, kita bakal lihat ada pelangi. INDAH BANGET. Lalu kita semua naik ke bukitnya, seolah gak rela kalau bakal pergi dari sana. hihi. Lalu kita upacara penutupan diklat dan resmilah kita telah mengikuti Diklat Pecinta Alam tahun 2014. *yeay*

Dan perjalanan pulang kita naik truk TNI *lagi* ke Sekolah. Dan sampailah kita. Hehehe
Yak itu pengalaman Diklat pertamaku, aku uda menjalani Diklat keduaku juga Oktober lalu. Dan rencananya Maret mendatang aku bakal ikut Diklat lagi dan sudah berubah peran. Bukan lagi sebagai peserta, tapi panitia.XD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s