Short Story

Mendengar derap kakinya pun aku tahu bahwa dia memang diciptakan bagiku.
Aku sadar,jika aku di butakan oleh cinta, namun apalah arti aku bahagia jika tanpa dia yang seharusnya menjadi milikku?
“Hei! Kamu habis dari mana?” Sapa ku
“Habis jalan-jalan aja di taman.” Jawabnya singkat..
Dia melewati ku begitu saja,tanpa senyuman.
Aku paham jika dia belum menerima ku atau pun menyadari bahwa aku orang yang tepat bagi dirinya. Aku tahu, aku hanya perlu menunggu.

Kau tahu? Kadang aku selalu salut dengan orang yang sedang jatuh cinta. Mereka memiliki kekuatan lebih dari yg mereka miliki untuk menunggu, untuk di sakiti, dan terkadang untuk dianggap bahwa mereka ada.

Matahari pagi menyilaukan pandangan mataku,seketika aku pun bangun dan sadar ini hari baru untuk ku perjuangkan. Dia sedang apa ya? Rumah kami hanya berbeda blok,maka tak jarang aku menghampiri dia. Dia masih sama. Dia masih dingin kepadaku. Hanya saja perlakuan lembut dari orang tuanya menguatkan aku juga. Mungkin dia ingin lari dari aku? Lari dari kehidupan ini? Aku tak tahu. Ia bersikap dingin kepada semua orang. Dan aku tak mau ia terus begitu. Aku jatuh cinta padanya sejak kami masih kecil. Aku tak menyangka bahwa perasaan itu akan terus tinggal sampai saat ini. Mungkin untuk merubah dirinya? Entahlah. Ku pakai mantel dan bersepeda menuju ke rumahnya,kurasa seolah hembusan angin dan sinar mentari memberi semangat kepadaku untuk tetap tersenyum.
“Hai,, ” sapa ku lembut. Aku melihatnya duduk dan membaca buku di dekat jendela rumahnya. Belum sempat ia melihat keberadaanku di luar, aku sudah berada di sampingnya.
“Aku mau sendiri. ” jawabnya singkat. Namun aku tak peduli, aku tetap duduk di sebelahnya. Hanya duduk tersenyum memandangi dirinya. Itu cukup. Sebenarnya aku heran, mengapa ia selalu membiarkan aku di sisinya padahal ia berkata ia ingin sendiri. Aku juga tak berbicara,aku tak ingin menganggu dirinya. Namun aku juga tak bertanya, boleh berada di sisinya saja itu membuat ku merasa nyaman.

Dengan mencintai mereka paham rasanya nyaman yang tanpa perlu mencarinya. Dengan cinta, mereka paham bagaimana menghabiskan waktu-waktu yang ada. Cinta membuat mereka menghargai tiap detik waktu yang ada. Karena cinta itu bukanlah sebuah kebetulan. Cinta itu sebuah pilihan. Pilihan tanpa sebuah alasan.

Aku mengajaknya ke bioskop untuk menonton film yang kunanti. Ia tak menolak,namun sikap dinginnya tak berubah. Ia tak banyak berbicara, hanya sesekali menggumamkan sesuatu untuk dirinya sendiri. Aku bahagia bisa berdua dengan dirinya. Meski dia tak banyak berbicara.
Ketika perjalanan pulang, ia memecahkan lamunanku dan bertanya
“Mengapa kamu selalu sabar menantiku?”
Aku tak tahu harus menjawab apa,aku mencintai nya dan tanpa alasan. Hatiku memilihnya sendiri. Aku diam. Namun kuputuskan aku menjawab
“Mencintai seseorang itu tidak butuh alasan. Hatiku sendiri yang memilih kamu. Aku juga tak tahu mengapa, karna cinta itu tak bisa di paksakan.”
Tak berani bertanya mengapa ia menanyakan hal itu,aku hanya memandangnya. Kuharap ini bukan sekedar mimpi. Ia tersenyum kepadaku. Senyum terhangat yang pernah ia berikan untuk ku. Aku kaget dan menutup mulut menyembunyikan kegembiraanku. Ia kembali menatap ke jalan dan menyetir. Selanjutnya, perjalanan kita habiskan dalam diam. Sesampainya di rumah, aku telah tertidur. Kurasakan kecupan hangat di dahi ku sebelum ia membangunkan aku. Lalu aku pun bangun dan mengucapkan terima kasih. Aku bertanya-tanya dalam batin, apakah itu nyata? Apakah itu nyata? Kecupan itu? Senyuman itu? Aku masih tidak benar-benar yakin. Namun aku SANGAT SENANG. Seolah-olah Dewi Fortuna turun seketika di atas kepalaku. Aku tak berhenti menyinggungkan senyum sejak saat itu. Sejak sebuah senyuman manis tersinggung untukku dan sebuah kecupan hangat tertuju di dahiku. Aku bahagia.

Kebahagiaan datang dari sebuah hal sederhana yang di sebut cinta. Cinta sanggup meredakan dendam. Melepas kebencian dan merubah seseorang.

Beberapa hari belakangan ini aku tak berjumpa dengan dia. Kudengar dari orang tuanya mereka akan berlibur ke Korea. Jauh. Aku mungkin merasa sedih karna jarak memisahkan kita,namun aku tahu semakin lama aku menunggu semakin senang pula ketika aku bertemu dengannya. Kuhabiskan hari-hari ku tanpanya dengan membaca buku yang juga ia baca , membuat rajutan untuknya agara dapat ku berikan nanti ketika ia pulang dan tetap menunggu kepulangannya.

Cinta membuat seseorang menjadi sabar, menjadi kuat dan memberi motivasi lebih dari yang ia miliki. Mungkin kebersamaan terbatas waktu namun cinta itu sendiri tak akan termakan oleh waktu. Cinta yang abadi cinta yang sejati dan penuh ketulusan

Hari itu datang! Ia pulang. Dengan gembira aku berlari ke rumahnya dengan rajutanku. Aku berharap ia akan senang menerimanya. Aku harap ia akan kembali tersenyum kepadaku dan mengecup keningku. Namun ada yang aneh. Orang tuanya menatapku pilu. Mata mereka sembab,seolah menangis. Tak kulihat dia di rumahnya. Kemana?
“Grisel, Randy sudah pergi.” Pergi kemana?!
“Maksud tante apa?”
“Penyakit kankernya tak dapat di sembuhkan. Kepergian kami ke Korea adalah untuk operasi. Namun operasi tak berjalan baik. Tuhan telah memanggilnya sayang.”
Air mata tak terbendungkan. Hanya menangislah yang dapat kulakukan. Sakit. Ini terlalu sakit. Ini terlalu cepat. Aku belum sempat menanyakan semua hal yang ingin kutanyakan. Mengapa ia selalu membiarkan aku duduk di sisinya ketika ia ingin sendirian? Mengapa ia menanyakan hal itu ketika kita pulang waktu itu? Apakah senyuman itu tulus kepadaku? Apakah kecupan itu nyata? Apakah kamu merasakan cinta layaknya diriku?
Aku tak tahu.

Advertisements

One comment

  1. good writing, but try to write something more interesting to captivate readers and look for a theme that is rarely used most people, okay.
    and sorry if I can only comment like this, hopefully our friendship went smoothly as well.GBU

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s